Senam Bersama...

Senam dalam kebersamaan di pagi hari, membangun komunitas yang sehat dan damai penuh persaudaraan.

Ziarah bersama...

Ziarah dalam kebersamaan di Gua Maria Kerep Ambarawa, membangun iman dalam kasih persaudaraan.

Rekreasi bersama...

Bergembira bersama dalam rekreasi untuk membangun persaudaraan dan solidaritas.

Komunitas Persaudaraan...

Bersama keluarga menikmati liburan di area wisata Bandungan Indah.

Bangunan wisma...

Tempat yang bersih, damai, dan nyaman untuk menikmati usia senja....

Perayaan Minggu Palma...

Membangun dan menguatkan iman di usia senja....

Tuesday, February 3, 2026

Sejarah Wisma

Sejarah Berdirinya Wisma Lansia Harapan Asri (WLHA) Hingga Kini

Wisma Lansia Harapan Asri (WLHA) yang berlokasi di Jl. Tusam Raya 2 A, Pedalangan, Banyumanik, Semarang, merupakan karya pelayanan sosial di bawah naungan Yayasan Mardiwijana dan dikelola oleh para Bruder Kongregasi Santo Aloisius (CSA). Kelahiran dan pertumbuhan WLHA merupakan bagian dari dinamika panggilan perutusan Kongregasi Bruder-Bruder Santo Aloisius untuk mewujudkan kasih Allah secara konkret melalui pelayanan yang berpihak pada martabat manusia, khususnya mereka yang lemah dan membutuhkan perhatian.

Sejarah WLHA tidak dapat dipisahkan dari perjalanan karya pendidikan Para Bruder CSA di Banyumanik, terutama melalui Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Aloisius. Dalam terang spiritualitas CSA—yang menempatkan Persaudaraan, Kasih, dan Damai sebagai roh pelayanan—perjalanan sejarah ini dipahami bukan sekadar sebagai alih fungsi karya, melainkan sebagai proses discernment bersama dalam membaca tanda-tanda zaman.

Akar Sejarah: SLTP Aloisius Banyumanik

SLTP Aloisius Banyumanik didirikan pada tahun 1982 atas prakarsa Br. Pius Suyoto, CSA. Pada masa awal, sekolah ini berlokasi di Jl. Kanfer Raya No. 49 Semarang dengan sarana yang sangat sederhana, berupa dua ruang kelas semi permanen yang berdampingan dengan gereja yang saat itu masih berstatus stasi. Kehadiran SLTP Aloisius merupakan wujud kepedulian tarekat terhadap kebutuhan pendidikan masyarakat setempat, khususnya keluarga-keluarga sederhana.

Berkat kerja keras pengurus Yayasan Mardiwijana dan dukungan tarekat, pada tahun 1983 SLTP Aloisius memiliki gedung sekolah sendiri di Jl. Tusam Raya 2A, Pedalangan, Banyumanik. Selama lebih dari dua puluh tahun, sekolah ini menjadi sarana pewartaan nilai Injili melalui dunia pendidikan, dengan menempatkan peserta didik sebagai pribadi yang utuh dan bermartabat.

Penutupan SLTP Aloisius sebagai Proses Discernment

Memasuki awal tahun 2000-an, SLTP Aloisius menghadapi tantangan serius berupa penurunan jumlah siswa, meningkatnya persaingan dengan sekolah negeri, serta keterbatasan kemampuan ekonomi orang tua siswa. Ketidakseimbangan antara pemasukan dan biaya operasional sekolah berdampak langsung pada keberlanjutan karya pendidikan ini.

Dalam Rapat Dewan Umum CSA bersama Pengurus Yayasan Mardiwijana pada tanggal 6 November 2002 ditegaskan bahwa keberlangsungan sekolah mensyaratkan kondisi minimal tertentu. Ketika syarat tersebut tidak lagi terpenuhi, tarekat dan Yayasan, dalam semangat tanggung jawab dan kejujuran institusional, mengajukan permohonan penutupan SLTP Aloisius pada Agustus 2003. Keputusan Dewan Umum CSA pada tanggal 30 Agustus 2003 untuk menutup sekolah ini merupakan buah pertimbangan matang, dialog luas, serta kesadaran akan keterbatasan nyata.

Penutupan SLTP Aloisius tidak dimaknai sebagai kegagalan, melainkan sebagai panggilan untuk memperbarui bentuk pelayanan. Seluruh siswa tetap didampingi hingga lulus, dan para pendidik diperhatikan penyalurannya. Sikap ini mencerminkan tanggung jawab moral dan institusional CSA terhadap semua pihak yang terlibat dalam karya tersebut.

Mencari dan Menemukan Arah Karya Baru

Pasca penutupan SLTP Aloisius, Dewan Umum CSA bersama Yayasan Mardiwijana meneguhkan komitmen untuk menghadirkan karya baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan setia pada perutusan tarekat. Melalui Surat Keputusan No. 163/DU-CSA/IX/2003 tanggal 19 September 2003, dibentuk Panitia Ad Hoc untuk melakukan studi, konsultasi, dan penjajakan kemungkinan karya baru.

Serangkaian dialog dengan berbagai pihak—antara lain SPSI Jawa Tengah, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, BLKI, APINDO, serta para tokoh religius—membantu tarekat membaca realitas sosial secara lebih jernih. Dari proses ini semakin tampak kebutuhan mendesak akan pelayanan bagi para lanjut usia, yang menuntut pendekatan profesional, manusiawi, dan berkelanjutan.

Berdirinya Wisma Lansia Harapan Asri

Menanggapi kebutuhan tersebut, CSA memutuskan untuk mengembangkan karya pelayanan lansia yang mencakup pendampingan, penitipan, serta perawatan lansia religius dan awam. Keputusan ini dilandasi oleh spiritualitas Injili yang menempatkan pelayanan kepada yang rapuh sebagai bentuk kesetiaan pada kasih Allah.

Gedung bekas SLTP Aloisius direnovasi secara bertahap sejak tahun 2005 hingga 2007 untuk dialihfungsikan menjadi Wisma Lansia Harapan Asri. Renovasi dilakukan oleh seorang arsitek yakni Bapak Ir. Yudi Prasinto dengan prinsip kehati-hatian, tanggung jawab, dan keberlanjutan sesuai kemampuan dana yang diperoleh dari swadaya Kongregasi, PORTICUS Belanda, umat katolik kota Semarang. Fasilitas yang dibangun mencerminkan perhatian terhadap martabat lansia sebagai pribadi, bukan sekadar penerima layanan.

WLHA dalam Kerangka Tata Kelola dan Renstra 2026

Sejak mulai beroperasi dan khususnya memasuki tahun-tahun pengembangan berikutnya, WLHA bertumbuh sebagai karya pelayanan lansia yang dikelola secara semakin terstruktur. Pembentukan tim, rekrutmen dan pembinaan sumber daya manusia, penataan sistem pelayanan, serta kerja sama dengan berbagai pihak menjadi bagian dari proses penguatan tata kelola.

Pengalaman historis WLHA—yang lahir dari keterbatasan, dialog, dan pembaruan—menjadi fondasi penerapan prinsip Good Nursing Home Governance sebagaimana ditegaskan dalam Rencana Strategis dan Roadmap WLHA 2026. Prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, profesionalitas, dan keberlanjutan tidak dipahami sebagai tuntutan administratif semata, melainkan sebagai wujud kesetiaan pada nilai-nilai konstitusional CSA.

Dalam kerangka Renstra dan Roadmap 2026, WLHA meneguhkan diri sebagai rumah pelayanan bagi para lansia sebagai pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan. Sejarah WLHA menjadi landasan reflektif untuk memperkuat mutu pendampingan lansia, kesejahteraan dan kompetensi para pelayan, serta sistem tata kelola yang jujur, partisipatif, dan berorientasi pada martabat manusia. Dengan demikian, perjalanan sejarah WLHA tidak berhenti pada kisah masa lalu, tetapi terus mengalir sebagai sumber inspirasi dan tanggung jawab dalam melaksanakan perutusan CSA di masa kini dan masa depan.